Warga Tanjung Mulia Menjerit: “Pak Presiden, Selamatkan Kami dari Jeratan Mafia Tanah!”

Warga Tanjung Mulia Menjerit: “Pak Presiden, Selamatkan Kami dari Jeratan Mafia Tanah!”

MEDAN – jelasnews.com
Ribuan warga Kelurahan Tanjung Mulia, Kecamatan Medan Deli, kembali menggelar aksi demonstrasi pada Rabu (9/7/2025), menolak keras rencana eksekusi lahan seluas 17 hektare yang telah mereka huni selama beberapa generasi. Meski proses eksekusi gagal dilaksanakan, semangat masyarakat untuk mempertahankan tanah warisan mereka tak sedikit pun surut.

Aksi digelar di sekitar SPBU Jalan Aluminium I, lokasi yang menjadi titik berkumpul warga dari Lingkungan 16, 17, dan 20. Dalam orasinya, massa menyerukan permohonan dan desakan kepada Presiden RI Prabowo Subianto, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, serta Wali Kota Medan Rico Waas agar segera turun tangan mengatasi persoalan yang mereka hadapi.

“Kami tinggal di sini bukan sehari dua hari. Sudah lebih dari seabad tanah ini kami rawat, kami tempati. Kini tiba-tiba ada yang datang mengklaim, menyebut lahan ini milik mereka. Kami tidak akan diam!” teriak Igun (53), salah satu tokoh masyarakat yang mewakili suara warga.

Banyak di antara warga mengaku memiliki dokumen resmi atas tanah dan bangunan yang mereka tempati. Salah satu warga bahkan menunjukkan bukti surat tanah peninggalan orang tuanya yang diterbitkan sejak 1982.

“Ini bukan tanah kosong. Kami punya surat sah! Jangan paksa kami bertindak di luar batas. Negara harus berpihak kepada rakyatnya, bukan mafia,” kata warga yang enggan disebut namanya.

Warga menduga ada permainan terselubung yang melibatkan oknum dan mafia tanah, mulai dari proses pengadilan hingga dugaan rekayasa sidang tertutup. Mereka menilai hak atas tanah mereka terancam akibat praktik kotor yang menyusup ke dalam sistem hukum.

“Kami melihat ada yang tak beres. Proses pengadilan tak transparan, seakan semua sudah diatur untuk menggusur kami secara diam-diam,” tegas Igun.

Aksi ini merupakan yang keempat kalinya dilakukan warga di lokasi yang sama. Dalam setiap aksinya, mereka terus menyuarakan penolakan terhadap segala upaya pengambilalihan lahan dan menyatakan siap mempertahankan tanah mereka hingga titik darah terakhir.

Sorotan juga datang dari kalangan media yang mencium adanya celah hukum yang dimanfaatkan pihak tertentu. Mafia tanah diduga mencoba mengambil alih lahan bernilai tinggi dengan cara yang merugikan warga dan menabrak keadilan.

Melalui aksi damai ini, warga berharap agar pemerintah pusat dan daerah tidak tinggal diam. Mereka meminta sertifikat tanah diberikan secara resmi dan gratis, khususnya bagi keluarga kurang mampu yang telah lama tinggal di wilayah tersebut.

“Yang kami minta hanya pengakuan dan keadilan. Kami ingin hidup tenang, tanpa ancaman pengusiran dari tanah sendiri. Kami mohon, Presiden bantu rakyat kecil ini!” seru salah satu warga.

Kini, suara Tanjung Mulia menggaung, tak sekadar di jalanan Medan, namun juga ditujukan ke Istana, dengan harapan suara mereka akan direspons dengan tindakan nyata.

(boim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *