Amiruddin Soroti Polemik Hotel Peserta AFF U-19, Minta PSSI Sumut Evaluasi Perencanaan
MEDAN – jelasnews.com
Polemik terkait pembiayaan akomodasi peserta ASEAN U-19 Boys’ Championship 2026 mendapat perhatian dari tokoh masyarakat sekaligus pengamat sepak bola, Drs. H. Amiruddin.
Ia menilai persoalan tersebut semestinya dijadikan bahan evaluasi penyelenggaraan turnamen, bukan malah memunculkan saling tuding yang berpotensi menyesatkan publik.
Menurut Amiruddin, berkembangnya opini yang menyebut Pemerintah Kota Medan dan Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, tidak memenuhi komitmen pembiayaan hotel peserta merupakan narasi yang perlu diluruskan.
Ia menegaskan, hingga kini tidak pernah ada dokumen resmi yang dipublikasikan kepada masyarakat yang menunjukkan adanya komitmen Pemko Medan untuk menanggung biaya akomodasi seluruh peserta turnamen tersebut.
“Publik berhak mengetahui dasar hukum maupun administrasi yang menjadi landasan jika memang ada anggapan bahwa pembiayaan hotel peserta merupakan tanggung jawab pemerintah daerah,” ujar Amiruddin, Rabu (3/6/2026).
Mantan Ketua DPRD Medan periode 2009–2014 itu mempertanyakan dasar yang digunakan pihak penyelenggara apabila menganggap Pemko Medan memiliki kewajiban membiayai kebutuhan akomodasi peserta.
Menurutnya, tanpa adanya kesepakatan resmi, tudingan bahwa pemerintah daerah mengingkari komitmen menjadi tidak berdasar.
Amiruddin menilai seseorang tidak dapat dianggap melanggar janji apabila komitmen yang dituduhkan tersebut tidak pernah dibuat ataupun disepakati secara resmi.
Selain itu, ia juga menyoroti munculnya narasi yang menggambarkan seolah-olah pihak penyelenggara menjadi penyelamat turnamen akibat pemerintah daerah tidak menanggung biaya hotel peserta.
Menurutnya, pandangan tersebut justru berpotensi mengaburkan persoalan utama terkait perencanaan dan penganggaran kegiatan.
Ia mempertanyakan mengapa persoalan akomodasi yang merupakan kebutuhan mendasar dalam sebuah turnamen internasional baru menjadi polemik menjelang pelaksanaan kegiatan.
Padahal, menurutnya, aspek tersebut seharusnya sudah dipastikan sejak tahap awal persiapan.
“Jika kebutuhan dasar peserta belum memiliki kepastian sejak awal, maka yang perlu dievaluasi adalah perencanaan penyelenggara, bukan pihak lain yang sejak awal tidak ditetapkan sebagai penanggung jawab biaya tersebut,” katanya.
Amiruddin juga mengingatkan bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap sebuah kegiatan tidak serta-merta berarti seluruh tanggung jawab penyelenggaraan beralih kepada pemerintah daerah.
Menurutnya, bantuan yang diberikan pemerintah merupakan bentuk dukungan, bukan pengambilalihan seluruh kewajiban organisasi atau panitia penyelenggara.
Ia menilai kritik yang diarahkan kepada Rico Waas juga kurang tepat mengingat Pemko Medan telah memberikan berbagai dukungan untuk menyukseskan pelaksanaan turnamen, mulai dari persiapan Stadion Teladan, pembenahan sarana pendukung, koordinasi lintas instansi hingga mobilisasi sumber daya pemerintah daerah.
“Seharusnya dukungan tersebut mendapat apresiasi. Jika muncul persoalan yang menjadi bagian dari tanggung jawab penyelenggara, tidak tepat jika kemudian diarahkan menjadi kesalahan pemerintah daerah,” ujarnya.
Amiruddin meminta PSSI Sumut dan panitia lokal menjadikan persoalan ini sebagai momentum introspeksi sekaligus evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola penyelenggaraan turnamen.
Ia menekankan pentingnya keterbukaan kepada publik terkait pembagian tugas, mekanisme pengambilan keputusan, serta skema pembiayaan yang digunakan.
Menurutnya, apabila terdapat kekurangan dalam perencanaan, hal tersebut sebaiknya diakui dan diperbaiki.
Begitu pula jika terjadi miskomunikasi atau perbedaan persepsi mengenai pembiayaan, seluruh dokumen dan kesepakatan sebaiknya dibuka secara transparan kepada masyarakat.
Di akhir pernyataannya, Amiruddin berharap pelaksanaan ASEAN U-19 Boys’ Championship 2026 dapat menjadi momentum untuk membangun tata kelola sepak bola yang lebih profesional di Sumatera Utara,
mulai dari aspek perencanaan anggaran, manajemen risiko, komunikasi publik hingga akuntabilitas organisasi.
“Sepak bola tidak akan berkembang melalui budaya saling menyalahkan. Kemajuan hanya bisa dicapai melalui evaluasi yang jujur, keberanian mengakui kekurangan, dan komitmen untuk terus memperbaiki diri,” pungkasnya.
(wellas)







