Meriahnya MTQ Batu Bara dan Harapan yang Belum Tuntas untuk Pendidikan Qurani
BATU BARA — jelasnews.com
Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XIX tingkat Kabupaten Batu Bara tahun 1447 H/2026 M kembali digelar dengan semarak di Lapangan Indrasakti, Kecamatan Air Putih, Kamis (14/05/2026).
Kegiatan tahunan bernuansa religius tersebut dihadiri langsung Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian, sebagai bentuk dukungan terhadap syiar Islam dan pembinaan generasi Qurani. Mengusung tema “Membangun Karakter Bangsa yang Qurani di Tengah Tantangan Zaman”,
Pelaksanaan MTQ berlangsung meriah dengan panggung megah serta berbagai rangkaian perlombaan tilawah Al-Quran.
Namun di balik kemeriahan itu, muncul pertanyaan dari masyarakat mengenai sejauh mana komitmen nyata pemerintah dalam memperkuat pendidikan keagamaan di Batu Bara.
Pasalnya, hingga kini masih banyak pondok pesantren, madrasah diniyah, hingga rumah tahfiz Al-Quran di berbagai wilayah yang bertahan dengan kondisi serba terbatas.
Sebagian lembaga pendidikan agama bahkan masih mengandalkan bantuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari.
Kondisi para guru agama, ustaz, pengajar tahfiz, dan guru mengaji juga dinilai masih memprihatinkan. Di tengah pengabdian mereka dalam membina moral dan akhlak generasi muda, kesejahteraan para tenaga pendidik agama tersebut dinilai belum mendapat perhatian maksimal.
Masyarakat pun kembali menyoroti terkait program pembangunan rumah tahfiz Al-Quran di setiap desa di Kabupaten Batu Bara.
Program tersebut sempat menjadi harapan besar masyarakat yang menginginkan penguatan nilai-nilai religius ini dapat di realisasikan dalam wujud nyata.
Banyak warga menilai realisasi program rumah tahfiz tersebut belum terlihat merata di seluruh desa. Karena itu, masyarakat berharap program keagamaan tidak hanya ramai dibicarakan saat momentum politik atau seremoni tahunan seperti MTQ.
Menurut sejumlah tokoh masyarakat, kegiatan MTQ memang memiliki nilai penting dalam syiar Islam dan pembinaan kecintaan terhadap Al-Quran.
Namun mereka berharap pemerintah daerah juga memberikan perhatian berkelanjutan melalui dukungan anggaran bagi pesantren, peningkatan kesejahteraan guru agama, serta realisasi pembangunan rumah tahfiz secara konkret.
Masyarakat menilai, membangun generasi Qurani bukan hanya melalui perlombaan dan seremoni, melainkan melalui kebijakan nyata yang berpihak pada pendidikan agama dan para pengabdinya.
Jika lembaga pendidikan Islam masih harus berjuang sendiri di tengah keterbatasan, sementara Pemerintah juga punya tanggung jawab moral dalam penguatan pendidikan insan Qurani yang sepertinya belum sepenuhnya terwujud, maka kemeriahan MTQ dikhawatirkan hanya menjadi agenda rutin tahunan tanpa dampak perubahan yang signifikan bagi masyarakat.
Meriahnya MTQ Batu Bara dan Harapan yang Belum Tuntas untuk Pendidikan Qurani







