150 Hektare Lahan Pertanian Batu Bara Terendam Banjir, DPRD Dorong Pemulihan dengan Dana Transfer

BATU BARAjelasnews.com

Sekitar 150 hektare lahan pertanian di Desa Gambus Laut, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, terendam banjir akibat pengalihan aliran Sungai Dalu Dalu ke Sungai Gambus. Banjir tersebut mengancam tanaman cabai dan padi mengalami gagal panen serta menimbulkan kerugian yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Kondisi tersebut mendorong DPRD Batu Bara melalui Komisi IV meminta perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. DPRD berharap Gubernur Sumut Bobby Nasution dapat mengalokasikan dana transfer daerah yang dikembalikan ke Pemprov Sumut untuk membantu pemulihan masyarakat dan petani yang terdampak.

Permintaan itu disampaikan saat Komisi IV DPRD Batu Bara bersama kelompok tani Gambus Laut, Dinas PSDA, UPTD PSDA Bah Bolon, dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera Utara menggelar pertemuan di Kantor PSDA, Medan, Senin (10/8/2026).

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Batu Bara, Ismar Khomri, mengatakan penanganan banjir tidak boleh berhenti pada tahap tanggap darurat. Menurutnya, pemerintah juga perlu memastikan adanya bantuan bagi masyarakat, khususnya petani yang kehilangan tanaman dan sumber pendapatan akibat banjir.

Ia menjelaskan, selain lahan pertanian, genangan air juga merendam sejumlah permukiman warga di Dusun VI, VII dan VIII Desa Gambus Laut. Kondisi tersebut menambah dampak sosial dan ekonomi yang harus segera ditangani.

“Lahan pertanian cabai dan padi seluas sekitar 150 hektare serta permukiman warga terdampak akibat pengalihan aliran Sungai Gambus. Pemerintah diharapkan hadir dalam proses pemulihan, baik setelah tanggap darurat maupun pada tahap rehabilitasi,” ujar Ismar.

Banjir tersebut diduga berkaitan dengan pekerjaan rehabilitasi turap dan Bendungan Dalu Dalu di Sungai Dalu Dalu. Dalam proses pengerjaan proyek, aliran air dari Sungai Dalu Dalu dialihkan seluruhnya menuju Sungai Gambus.

Pengalihan debit air tersebut menyebabkan kapasitas Sungai Gambus tidak mampu menampung aliran sehingga meluap dan menggenangi lahan pertanian serta permukiman warga.

Dampak banjir bahkan dikhawatirkan meluas ke wilayah Desa Perupuk dan Desa Lubuk Cuik apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani.

Di sisi lain, upaya mempercepat surutnya genangan terus didorong. Kepala UPTD PSDA Bah Bolon, Syahrial Efendi, meminta pihak rekanan dan konsultan proyek segera mengambil langkah teknis untuk mengendalikan debit air dan mempercepat proses pengeringan wilayah terdampak.

Ismar menyebut terdapat sejumlah langkah darurat yang dapat dilakukan, di antaranya normalisasi aliran sungai, rekayasa jalur air, serta pemasangan sheet pile atau sandbag pada titik-titik yang dinilai membutuhkan penguatan.

Menurutnya, langkah cepat tersebut penting dilakukan agar genangan segera surut dan kerugian masyarakat tidak semakin besar. Pada saat yang sama, pemerintah juga perlu menyiapkan skema bantuan untuk membantu petani dan warga memulihkan kondisi ekonomi setelah bencana banjir.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *